loading...
Senin, 24 Oktober 2016

Hukum Adzan Ketika Menaruh Mayat Ke Liang Lahat

Pertanyaan : Bagaimana hukum adzan ketika menaruh mayat di dalam kubur?

Jawab : Saya akan menjawab sesuai dengan jawaban guru dari guru kami yaitu As-Syeikh Isma’il Usman Zein Al-Yamani beliau berfatwa bahwa hal tersebut “TIDAK APA-APA”. Dan hal tersebut (adzan ketika menguburkan mayat atau meletakkan di liang lahat) mempunyai faedah secara umum dan khusus.Faedah umumnya yaitu adzan ini termasuk dzikir,dan berdzikir ketika memasukkkan mayat ke kubur adalah hal yg terpuji.Adapun faedah khususnya yaitu bahwasanya adzan dan iqamat mempunyai faedah utk mengusir syaithan.
(Kitab Qurratul Ain Bi Fatawa Syeikh Ismail Zein hal : 235).

Adapun keterangan menganalogikan keluarnya seseorang dari dunia dengan lahir ke dunia yaitu:banyak dari para ulama’ yg menyebutkan masalah ini dan mereka menqiyaskan (menganalogikan) adzan ini dengan adzan di telinga bayi ketika dilahirkan kedunia maka disunnahkan juga ketika di keluarkan dari dunia karena agar seseorang yang baru keluar dari perut ibunya menuju dunia diiringi dengan dzikir begitupula baguslah kiranya seseorang yg keluar dari dunia menuju akherat juga diiringi dengan dzikir.(kitab Qurratul Ain Bi Fatawa Ismail Usman Zein hal 236).

http://abusigli.blogspot.com/2016/10/hukum-adzan-ketika-menaruh-mayat-ke.html

Saya tambahkan juga keterangan dari ustadz Muhammad Makruf di dalam blog Hujjah Aswaja :

Dalam pandangan ulama Syafiiyah,adzan dan iqamah tidak hanya diperuntukkan sebagai penanda masuknya salat,baik berdasarkan hadis atau mengimplementasikan makna hadis. Oleh karenanya ada sebagian ulama yg memperbolehkan adzan saat pemakaman,dan sebagian yg lain tidak menganjurkannya.Dalam hal ini ahli fikih Ibnu Hajar al-Haitami berkata :

قَد�' يُسَنُّ ال�'أَذَانُ لِغَي�'رِ الصَّلَاةِ كَمَا فِي آذَانِ ال�'مَو�'لُودِ ، وَال�'مَه�'مُومِ ، وَال�'مَص�'رُوعِ ، وَال�'غَض�'بَانِ وَمَن�' سَاءَ خُلُقُهُ مِن�' إن�'سَانٍ ، أَو�' بَهِيمَةٍ وَعِن�'دَ مُز�'دَحَمِ ال�'جَي�'شِ وَعِن�'دَ ال�'حَرِيقِ قِيلَ وَعِن�'دَ إن�'زَالِ ال�'مَيِّتِ لِقَب�'رِهِ قِيَاسًا عَلَى أَوَّلِ خُرُوجِهِ لِلدُّن�'يَا لَكِن�' رَدَد�'ته فِي شَر�'حِ ال�'عُبَابِ وَعِن�'دَ تَغَوُّلِ ال�'غِيلَانِ أَي�' تَمَرُّدِ ال�'جِنِّ لِخَبَرٍ صَحِيحٍ فِيهِ ، وَهُوَ ، وَال�'إِقَامَةُ خَل�'فَ ال�'مُسَافِرِ (تحفة المحتاج في شرح المنهاج – ج 5/ص 51)

“Terkadang adzan disunahkan utk selain salat,seperti adzan di telinga anak yg lahir, orang yg kesusahan,orang yg pingsan,orang yg marah,orang yg buruk etikanya baik manusia maupun hewan,saat pasukan berperang,ketika kebakaran,dikatakan juga ketika menurunkan mayit ke kubur,dikiaskan terhadap saat pertama datang ke dunia.Namun saya membantahnya di dalam kitab Syarah al-Ubab.Juga disunahkan saat kerasukan jin, berdasarkan hadis sahih,begitu pula adzan dan iqamah saat melakukan perjalanan” (Tuhfat al-Muhtaj 5/51)

Di kitab lainnya Ibnu Hajar secara khusus menjelaskan masalah ini :

(وَسُئِلَ) نَفَعَ اللَّهُ بِهِ بِمَا لَف�'ظُهُ مَا حُك�'مُ ال�'أَذَانِ وَال�'إِقَامَةِ عِن�'دَ سَدِّ فَت�'حِ اللَّح�'دِ ؟ (فَأَجَابَ) بِقَو�'لِهِ هُوَ بِد�'عَةٌ وَمَن�' زَعَمَ أَنَّهُ سُنَّةٌ عِن�'دَ نُزُولِ ال�'قَب�'رِ قِيَاسًا عَلَى نَد�'بِهِمَا فِي ال�'مَو�'لُودِ إل�'حَاقًا لِخَاتِمَةِ ال�'أَم�'رِ بِاب�'تِدَائِهِ فَلَم�' يُصِب�' وَأَيُّ جَامِعٍ بَي�'نَ ال�'أَم�'رَي�'نِ وَمُجَرَّدُ أَنَّ ذَاكَ فِي الِاب�'تِدَاءِ وَهَذَا فِي الِان�'تِهَاءِ لَا يَق�'تَضِي لُحُوقَهُ بِهِ. (الفتاوى الفقهية الكبرى – ج 3/ص 166)

“Ibnu Hajar ditanya : Apa hukum adzan dan iqamat saat menutup pintu liang lahat? Ibnu Hajar menjawab : Ini adalah bid’ah.Barangsiapa yg mengira bahwa adzan tersebut sunah ketika turun ke kubur,dengan dikiyaskan pada anak yg lahir,dengan persamaan akhir hidup dengan permulaan hidup,maka tidak benar.Dan dari segi apa persamaan keduanya? Kalau hanya antara permulaan dan akhir hidup tidak dapat disamakan” (al-Fatawa al-Fiqhiyah al-Kubra 3/166)

Tentu yg dimaksud bid’ah disini tentu bukan bid’ah yg sesat, sebab Ibnu Hajar ketika menyebut bid’ah pada umumnya menyebut dengan kalimat “al-Madzmumah”, atau “al-Munkarah” dan lainnya dalam kitab yg sama.Beliau hanya sekedar menyebut bid’ah karena di masa Rasulullah Saw memang tidak diamalkan.

Adzan Pertama Kali di Kubur
Sejauh referensi yg saya (Ustadz Makruf) ketahui tentang awal mula melakukan adzan saat pemakaman adalah di abad ke 11 hijriyah berdasarkan ijtihad seorang ahli hadis di Syam Syria, sebagaimana yg disampaikan oleh Syaikh al-Muhibbi :

محمد بن محمد بن يوسف بن أحمد بن محمد الملقب شمس الدين الحموي الأصل الدمشقي المولد الميداني الشافعي عالم الشام ومحدثها وصدر علمائها الحافظ المتقن : وكانت وفته بالقولنج في وقت الضحى يوم الاثنين ثالث عشر ذي الحجة سنة ثلاث وثلاثين وألف وصلى عليه قبل صلاة العصر ودفن بمقبرة باب الصغير عند قبر والده ولما أنزل في قبره عمل المؤذنون ببدعته التي ابتدعها مدة سنوات بدمشق من افادته إياهم أن الأذان عند دفن الميت سنة وهو قول ضعيف ذهب إليه بعض المتأخرين ورده ابن حجر في العباب وغيره فأذنوا على قبره (خلاصة الأثر في أعيان القرن الحادي عشر – ج 3/ص 32)

“Muhammad bin Muhammad bin Yusuf bin Ahmad bin Muhammad yg diberi gelar Syamsuddin al-Hamawi,asalnya ad-Dimasyqi,kelahiran al-Midani,asy-Syafii,seorang yg alim di Syam,ahli hadis disana,pemuka ulama,al-hafidz yg kokoh.Beliau wafat di Qoulanj saat waktu Dhuha, hari Senin 13 Dzulhijjah 1033.Disalatkan sebelum Ashar dan dimakamkan di pemakaman ‘pintu kecil’ di dekat makam orang tuanya.Ketika janazahnya diturunkan ke kubur,para muadzin melakukan bid’ah yg mereka lakukan selama beberapa tahun di Damaskus,yg diampaikan oleh beliau (Syaikh Muhammad bin Muhammad bin Yusuf) kepada mereka bahwa ‘adzan ketika pemakaman adalah sunah’.Ini adalah pendapat lemah yg dipilih oleh sebagian ulama generasi akhir.Pendapat ini ditolak oleh Ibnu Hajar dalam kitab al-Ubab dan lainnya,maka mereka melakukan adzan di kuburnya” (Khulashat al-Atsar 3/32)
Baca Juga:Dialog Istiwa,Wahabi Akhirnya Menyerah
Kesimpulan :
1. Jawaban ini melihat dari sudut pandang ulama’ yg membolehkan adzan ketika memasukkan mayat ke kubur.
2. Di dalam madzhab Syafi’I ada dua pendapat dalam masalah ini,ada yg membolehkan dan ada yg tidak membolehkan dan semua mempunyai wijhat nadzor (sisi pandang) sendiri-sendiri.
3. Hendaknya kita utk toleransi di antara pendapat ulama’ yg mungkin tidak sesuai dengan pendapat kita.
4. Pendapat dari Al-Hafidz Ibnu Hajar sudah jelas dan tidak perlu dipertentangkan dan didebatkan. 

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Hukum Adzan Ketika Menaruh Mayat Ke Liang Lahat

0 komentar:

Posting Komentar