loading...
Saturday, July 29, 2017

Hakikat Kalam Allah

Siapa yang bisa mendengar kalam Nafsi Allah ?

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’âla yang telah mengajarkan hamba-hamba-Nya apa-apa yang tidak dia ketahui,kemudian shalawat beserta salam tercurahkan kehadirat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,keluarganya,para sahabatnya y dan orang-orang yang mengikutinya sampai akhir zaman.Ma’rifatullah atau mengenal Allah ‘Azza wa Jalla merupakan satu perkara wajib yang mesti diketahui oleh seorang muslim karena tanpa mengenal Allah Subhanahu wa Ta’âla tidak akan mungkin bisa diraih kebahagian hidup,surga Allah Subhanahu wa Ta’âla.Seseorang yang tidak mengenal Allah Subhanahu wa Ta’âla dengan benar tidak akan mengerti hakekat hidup yang sesungguhnya,dalam artian siapakah dia,untuk apa ia diciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’âla.


https://abusigli.blogspot.com/2017/07/hakikat-kalam-allah.html

Siapa yang bisa mendengar kalam Allah dan rasul

Deskripsi

Kalam Allah tidak berhuruf dan tidak bersuara,meskipun demikian dengan izin Allah,nabi Musa as bisa mendengar kalamnya.Karena selain sebagai nabi,beliau juga manusia biasa.

Pertanyaan

Adakah manusia selain nabi Musa bisa mendengar kalam Allah?.

Jawaban

Kalam Allah walaupun bukan jenis kalam makhluk,tidak berhuruf dan bersuara bisa didengar oleh para Rasul dan Malaikatnya baik melalui perantara maupun secara langsung.Firman Allah dalam surat as-syura ayat 15.

وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَن�' يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلَّا وَح�'يًا

Dan surat an-nisak ayat 163 :

إِنَّا أَو�'حَي�'نَا إِلَي�'كَ كَمَا أَو�'حَي�'نَا إِلَى نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِن�' بَع�'دِهِ وَأَو�'حَي�'نَا إِلَى إِب�'رَاهِيمَ وَإِس�'مَاعِيلَ وَإِس�'حَاقَ وَيَع�'قُوبَ وَال�'أَس�'بَاطِ وَعِيسَى وَأَيُّوبَ وَيُونُسَ وَهَارُونَ وَسُلَي�'مَانَ وَآتَي�'نَا دَاوُودَ زَبُورًا

Sebagian Ulama Mazhab Malikiyah mengatakan“ barang siapa mengingkari Allah telah berkomunikasi dengan nabi Musa as dituntut untuk segera bertaubat.Jika tidak mau,maka hukumannya adalah eksekusi mati”.

Menurut Sebahagian Mutaakkhirin:“hakikat kalam bagi Allah,sedangkan sandaran kalam bagi makhluk adalah Majaz.Karena bila kalam itu Qadim maka dia sifat Allah dan bila hadis maka itu perbuatannya”.Oleh demikian sepakat ulama jika Allah bersifat mutakallim.

Dikalangan Asya’irah kalam adalah sifat yang berada di zat Allah.Nama lainnya kalam Nafsi.Kaum Muktazilah mengingkari pernyataan demikian.Mereka berpendapat jika makna Allah mutakallim adalah Allah yang menciptakan kalam.

Ulama telah sepakat (Ijma’) Allah berkomunikasi dengan nabi Musa dengan dukungan ayat-ayat yang dhilalahnya jelas dan dengan ayat itu juga terbantahlah argumen kaum Muktazilah.

Para ulama berbeda pendapat tentang sifat mendengar (metode mendengarkan kalam nahsi) dari kalam nafsi.Menurut ahli dhahir : “kami beriman dengannya dan tidak berani berpendapat metodenya ”. Sedangkan menurut Ulama Bathiniyyah: “Allah menciptakan dalam hati Musa pemahaman dan tidak menciptakan pendengaran.

Menurut Mazhab Ahlussunnah wal Jamaah sendiri,Allah menciptakan pemahaman dalam hati nabi Musa as,pendengaran pada telinganya dan seluruh tubuhnya, dengan demikian,beliau mendengar kalam Allah yang tidak bersuara dan berhuruf. Wallahua’alm.

Referensi : Ibnu Hajar al-Haitami,Fatawa Hadisiyyah,maktabah Syamilah, hal 148.

عن معنى كلام الله تعالى لموسى (صلى الله عليه وسلم) وغيره ، وهل يمكن سماع غير موسى له ؟ فأجاب بقوله : كلام الله وإن لم يكن من جنس كلام المخلوقين يسمعه من أكرمه الله من رسله وملائكته بواسطة أو غيرها قال تعالى : ) وما كان لبشر أن يكلمه الله إلا وحيا ( الشورى : 51 الآية ، وقال تعالى : ) إنآ أوحينآ إليك كمآ أوحينآ إلى نوح و النبيين من بعده وأوحينآ إلى إبراهيم وإسماعيل وإسحاق ويعقوب و الأسباط وعيسى وأيوب ويونس وهارون وسليمان وءاتينا داوود زبورا ( النساء : 163 قال بعض أئمة المالكية : من أنكر أن الله تعالى كلم موسى استتيب ، فإن تاب وإلا قتل. قال بعض المتأخرين : والكلام على الحقيقة كله لله وإضافته إلى غيره مجاز ، لأنه إن كان قديما فهو صفته ، وإن كان حادثا فهو فعله لأنه بخلقه وإرادته ، ومن ثمة اتفقت الأمة على أنه تعالى متكلم ؛ فعند الأشعرية الكلام قائم بذاته العلية ويعبر عنه بالكلام النفسي. وأنكر المعتزلة ذلك وقالوا : معنى كونه متكلما أنه خالق للكلام. والإجماع على أنه تعالى كلم موسى للآيات المصرحة بذلك يرد عليهم إذ الأصل عدم المجاز.

واختلفوا في صفة سماعه للكلام النفسي. فأهل الظاهر قالوا : نؤمن به ولا نتكلم قصدا منهم إلى أنه متشابه ، وقالت الباطنية : خلق الله لموسى فهما في قلبه ولم يخلق له سمعا. ومذهب أهل السنة أن الله خلق له فهما في قلبه وسمعا في أذنيه وسائربدنه سمع به كلام الله من غير صوت ولا حرف بغير واسطة. وزعم المعتزلة جريا على مذهبهم الفاسد في إنكارهم الكلام النفسي أن الله تعالى خلق له فهما في قلبه وصوتا في الشجرة سمعه

Sekianlah Semoga Bermanfaat Untuk Bersama.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Hakikat Kalam Allah

0 comments:

Post a Comment