loading...
Friday, June 9, 2017

Perbedaan Ayat Muhkamat dan Mutasyabihat

Memahami Aqidah Ahlussunnah Waljama'ah
Memahami Ayat Mutasyabihat dan Ayat Muhkamat Dalam Al qur'an dan Keyakinan yang Benar terkait Allah Bertempat atau Tidak,kita akan menguraikan tentang arti atau makna yang sebenarnya.

Tentang ayat-ayat terkait Allah Swt.bersemayam di langit dan ayat pembandingnya sudah dibahas.Demikian juga dengan hadis-hadis yang mejadi dalil dan juga hadis pembandingnya.Kali ini coba kita kuak kembali tentang cara ulama memahami ayat-ayat dan hadis mutasyabihat.Dan akhirnya ditutup dengan keyakinan yg dianut oleh para ulama terkait keberadaan Allah bertempat ataukah tidak.


http://abusigli.blogspot.com/2017/06/perbedaan-ayat-muhkamat-dan-mutasyabihat.html


1. Muhkamat dan Mutasyabihat

Ayat Alquran terbagi dalam ayat muhkamat dan mutasyabihat.Muhkamat yaitu ayat yang dari sisi kebahasaan memiliki satu makna saja dan tidak memungkinkan untuk ditakwil ke makna lain.Atau ayat yang diketahui dengan jelas makna dan maksudnya.Seperti firman Allah :

لَي�'سَ كَمِث�'لِهِ شَىءٌ

“Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya. ” (QS asy-Syura36 : 11)

وَلَم�' يَكُن�' لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

“Dia (Allah) tidak ada satupun yang menyekutui-Nya.” (QS al-Ikhlash112 : 4)

هَل�' تَع�'لَمُ لَهُ سَمِيًّا

“Allah tidak ada serupa bagi-Nya. ” (QS Maryam19 : 65)

Sementara itu,ayat Mutasyabihat adalah ayat yg belum jelas maknanya,atau yg memiliki banyak kemungkinan makna dan pemahaman sehingga perlu direnungkan agar diperoleh pemaknaan yang tepat yg sesuai dengan ayat-ayat muhkamat.Ayat-ayat yg dipakai berdalil dan meyakini bahwa Allah Swt.bersemayam di arsy merupakan golongan ayat mutasyabihat.Hal itu karena kata istawa’ sendiri memilik makna tak hanya bersemayam/menempati.

Ada sekitar 13 makna bahkan ada yg mengatakan 15 makna istawa.Antara sekian makna itu,manakah yg pantas dan sesuai utk menyifati Allah Swt.?Begitu juga kata yad,wajh,ain,saq yg umumnya diartikan dengan tangan,wajah, mata,betis.Padahal kata tersebut punyai makna lain,sedangkan tak pantas Allah mempunyai keserupaan dengan makhluk sebagaimana ayat yg telah disebutkan.

Menyikapi ayat dan hadis yg berkaitan dengan bagaimana Allah Swt.menyifati diri-Nya,maka ulama menempuh dua metode.Metode Tafwidh dan Takwil.Sering juga disebut dengan metode salaf dan khalaf.Salaf adalah mereka para ulama yg hidup hingga 3 abahd pertama hijriyah.Selebihnya sudah tergolong sebagai khalaf.

Metode tafwidh disebut juga sebagai takwil ijmali. Ibnu Katsir menegaskan bahwa metode inilah yg ditempuh banyak ulama salaf seperti Imam Malik,al-Auza’i, al-Tsuri,al-Laits bin Sa’ad,Imam Syafi’I,Imam Ahmad,Ishaq bin Rahawaih dan lainnya dari para ulama Islam masa lalu dan masa sekarang. (Tafsir Ibnu Katsir, 3/427).

Dalam tafsirnya,Ibnu Katsir memaparkan metode itu dengan ungkapannya :

وهو إمرارها كما جاءت من غير تكييف ولا تشبيه ولا تعطيل. والظاهر المتبادر إلى أذهان المشبهين منفي عن الله

“Madzhab salaf adalah memperlakukan ayat tersebut sebagaimana datangnya,dengan tanpa takyif (memerincikan kaifiyatnya),tanpa tasybih (menyerupakan dengan makhluk),tanpa ta’thil (meniadakan).Adapun makna dhahir (bahasa) yg terbayang dalam hati golongan musyabbihin,itu tidak ada pada Allah. ”

Perhatikan ungkapan “makna dhahir”.Pada poin inilah perbedaan metode tafwidh yang ditempuh ulama salaf dan yg ditempuh golongan yg meyakini Allah bersemayam di Arsy.Ulama salaf meyakini kata istawa sebagai kata istawa yg memang difirmankan Allah Swt.Dan tercantum dalam Alqur’an.Namun mereka tidak menentukan maknanya dengan bersemayam, menguasai atau lainnya. Inilah tafwidh (menyerahkan) yg sebenarnya.

Sedangkan yg dilakukan golongan musyabbihah adalah memaknai,menerjemahkan kata istawa dengan mengikuti dhahir ayat sehingga menetapkan makna bersemayam,bertempat,bahkan duduk.Dan ini yg mereka doktrinkan sebagai keyakinan paling sahih.

Sedangkan metode kedua adalah takwil tafsili yg banyak dianut ulama khalaf.Yaitu mentakwil ayat-ayat mutasyabihat secara terperinci dengan menentukan makna-maknanya sesuai dengan penggunaan kata tersebut dalam bahasa Arab.Namun,seperti halnya metode tafwidh,mereka tidak memahami ayat-ayat tersebut sesuai dengan dhahirnya.

Metode ini pun dipakai oleh sebagian ulama salaf seperti Ibnu Abbas yang menakwil ayat 51 surat al-A’raf, ننساهم dari makna asli “lupa” diartikan sebagai natruku (tinggalkan/biarkan dalam azab).

Begitulah.Dalam memahami ayat-ayat mutasyabihat terkait sifat Allah Swt.,memaknai dan menerjemahkan secara lahiriyah makna ternyata menyesatkan keyakinan orang sehingga terjerumus ke pemahaman aliran mujassimah (meyakini Allah berbadan/bentuk) ataupun musyabbihah (menyifati Allah seperti makhluknya).Dan meyakini Allah bersemayam di Arsy di langit adalah bagian dari memahami ayat-ayat secara terkstual dan bertentangan dengan pemahaman ulama salaf baik secara metode tafwidh maupun takwil.

2. Allah Bertempat atau Tidak?

Menjawab ini,mari kita perhatikan keterangan yg tercantum dalam tafsir an-Nasafi, 3/47 berikut ini :

استوى استولى. عن الزجاج ، ونبه بذكر العرش وهو أعظم المخلوقات على غيره. وقيل : لما كان الاستواء على العرش وهو سرير الملك مما يردف الملك جعلوه كناية عن الملك فقال استوى فلان على العرش أي ملك وإن لم يقعد على السرير ألبتة وهذا كقولك «يد فلان مبسوطة» أي جواد وإن لم يكن له يد رأساً ، والمذهب قول علي رضي الله عنه : الاستواء غير مجهول والتكييف غير معقول والإيمان به واجب والسؤال عنه بدعة لأنه تعالى كان ولا مكان فهو على ما كان قبل خلق المكان لم يتغير عما كان.

“Istawa artinya istawla (menguasai),dikisahkan dari az-Zajjaj (241-311 H). dan mengingatkan dengan penyebutan Arsy atas yang lainnya,sedangkan Arsy adalah makhluk terbesar. ”

Sampai batas ini,kita mengetahui bahwa ternyata ulama salaf ada yg memakai metode takwil atas kata istawa. Pemilihan penyebutan Arsy menunjukkan bahwa makhluk lain yg lebih kecil berarti dalam kekuasaan Allah.

“Dikatakan:ketika Istiwa’ atas ‘Arasy yaitu singgasana Raja adalah sepadan artinya dengan memiliki,maka para ulama menjadikan Istiwa’ sebagai kinayah/ungkapan tidak langsung dari mempunyai.Maka diucapkan,“Si Fulan menguasai singgasana”meskipun ia sama sekali tidak duduk.Ini seperti ucapan Anda,“Tangan Fulan terbuka lebar” meskipun ia tak mempunyai tangan,sebagai kiasan dari “si Fulan dermawan. ”

Itulah cara ulama salaf memahami ayat istiwa’.Tidak dengan makna mengikuti dzahir kata,namun dengan pemikiran mendalam.Sedangkan pendapat yg paling kuat merupakan apa yg diungkapkan oleh Sahabat Ali Ra. yaitu,

الاستواء غير مجهول والتكييف غير معقول والإيمان به واجب والسؤال عنه بدعة لأنه تعالى كان ولا مكان فهو على ما كان قبل خلق المكان لم يتغير عما كان

“Istiwa’ bukanlah perkara majhul …

Maksudnya,istiwa’ sudah jelas adalah bagian ayat Alquran dan sudah diketahui pula makna dzahirnya.

“Menguraikan kaifiatnya,itu tidak masuk akal/mustahil …

Menjelaskan kaifiyat bagaimana istawa sendiri oleh Allah adalah tidak masuk akal.karena apapun yang terlintas dalam pikiran,maka Allah tidak akan seperti itu.

“Mengimaninya wajib.Dan mempertanyakan/mengurai maksud istiwa’ adalah bid'ah”

Beriman bahwa kata ayat istiwa’ ada dalam Alquran.Bukan mengimani makna dzahirnya.Hal ini karena …

“Allah Ta’ala telah ada saat tempat tidak ada,maka Dia tetap sebagaimana sebelum terciptanya tempat (tidak bertempat),tidak berubah sebagaimana ia telah Ada. ”

Akhirnya … kami cukupkan dari satu tafsir saja agar tidak memperpanjang bahasan.Intinya Allah Swt. Maha Suci dari membutuhkan tempat.Tempat (termasuk Arsy) adalah ciptaan-Nya,sebelum adanya segala ciptaan,maka setelah Dia menciptakan tempat,Dia tetap tidak bertempat. Wallahu A’lam bisshawab.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Perbedaan Ayat Muhkamat dan Mutasyabihat

0 comments:

Post a Comment